Ciri – Ciri Sastra

Kata sastra berasal dari bahasa sanksekerta yang berarti teks yang mengandung instruksi atau pedoman. Sas berarti instruksi atau berupa ajaran, sedangkan tra berarti alat atau sarana. Dalam KBBI sendiri, sastra memiliki arti bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).

Secara umum, karya sastra merupakan ciptaan dengan bahasa yang indah dan gaya penyajian nya menarik. Dengan kata lain, selain untuk berkomunikasi, pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya juga memiliki tujuan estetika.

Ciri – Ciri Sastra

Secara umum, berikut adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh karya sastra

  • Isinya dapat menggambarkan akan manusia dengan berbagai bentuk permasalahannya.
  • Terdapat tatanan bahasa yang baik dan indah.
  • Cara penyajiannya dapat memberi kesan yang menarik bagi pembaca.

Ciri – Ciri Sastra dalam periodisasi

Karya sastra dapat digolongkan berdasarkan zaman lahirnya karya sastra tersebut. Penggolongan ini disebut dengan istilah periodisasi. Periodisasi merupakan pembabakan sejarah perkembangan kesusastraan menurut kriteria yang ditentukan oleh sudut pandang peneliti. Kriteria atau dasar penggolongan periodisasi itu bermacam-macam, misalnya berdasarkan masa penerbitan karya sastra, pertimbangan intrinsik karya sastra, pertimbangan ekstrinsik karya sastra, dan berdasarkan pada perbedaan norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi zaman.

Di setiap periodenya, sastra berkembang dan memiliki ciri khas yang membedakan satu sama lain. Berikut diantaranya.

1. Angkatan Sastra Indonesia Lama (Sebelum Tahun 1920)

Pada masa ini karya sastra di Indonesia didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Salah satu karya yang paling terkenal dari era ini adalah “Gurindam Dua Belas” dari pujangga Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji. Sastra Indonesia angkatan ini memiliki ciri sebagai berikut.

  • bahasa baku yang kaku
  • bercerita tentang dewa-dewa/raksasa
  • cerita tentang kerajaan
  • mengandung unsur keagamaan yang kuat. 

2. Angkatan Balai Pustaka

Angkatan ini ditandai dengan berdirinya Balai Pustaka pada tahun 1917. Sebagian besar karya yang dihasilkan adalah roman, syair puisi dan pantun. Karya-karya angkatan ini yang terkenal diantaranya adalah novel “Siti Nurbaya” karya Marah Roesli, novel “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar, dan novel Salah Asuhan karya Abdul Muis. Beberapa ciri karya sastra pada angkatan ini antara lain:

  • gaya bahasanya mempergunakan perumpamaan klise, pepatah, dan peribahasa
  • alur yang digunakan sebagian besar alur lurus
  • teknik penokohan dan perwatakannya menggunakan analisis langsung
  • pusat pengisahannya pada umumnya mempergunakan metode orang ketiga
  • bersifat didaktis, yang mana sangat berpengaruh pada gaya penceritaan dan struktur penceritaannya, untuk memberi nasihat
  • bercorak romantis (melarikan diri) dari masalah kehidupan sehari hari yang menekan
  • banyak menceritakan permasalahan adat, terutama masalah adat kawin paksa, perpaduan, dan sebagainya
  • banyak menceritakan pertentangan paham antara kaum tua dengan kaum muda
  • latar cerita pada umumnya latar daerah, pedesaan, dan kehidupan daerah.

3. Angkatan Pujangga Baru (1930)

Angkatan ini ditandai dengan terbentuknya Majalah Poejangga Baroe. Karya sastra yang ada di angkatan ini antara lain, “Rindu Dendam” karya J.E. Tatengkeng dan “Nyanyi Sunyi” karya Amir Hamzah. Secara umum, karya sastra pada era ini mulai bercorak politik, nasionalis serta ada yang bertema pendidikan.

Pada periode ini, karya sastra puisi lebih banyak dihasilkan. Berikut beberapa ciri puisi yang dihasilkan pada Angkatan Pujangga Baru:

  • puisinya berbentuk puisi baru, bukan lagi pantun atau syair
  • pilihan kata katanya diwarnai dengan kata-kata indah
  • bahasa kiasan utama ialah perbandingan
  • hubungan antar kalimat jelas dan hampir tidak ada kata-kata yang ambigu
  • mengekspresikan perasaan, pelukisan alam yang indah, dan tenteram
  • persajakan (rima) merupakan salah satu sarana kepuitisan utama

4. Angkatan 1945

Karya yang berkembang pada periode ini cukup bervariasi, mulai dari puisi, cerpen, novel dan drama. Salah satu sastrawan yang terkenal ialah Chairil Anwar.

Tema pada periode ini lebih banyak mengemukakan tentang masalah kemasyarakatan, pandangan hidup, peperangan, dan cerita merebut kemerdekaan. Khusus untuk puisi, yang banyak dihasilkan adalah puisi bebas, yang tidak terikat pembagian bait, jumlah baris, dan persajakan (rima). Selain itu ada kecenderungan untuk menggunakan kata-kata, frasa dan kalimat kalimat ambigu menyebabkan arti ganda dan banyak tafsir.

5. Angkatan 1950

Angkatan ini terbentuk sebagai pengembangan dari Angkatan 1945. Tema tentang peperangan mulai berkurang, dan lebih banyak menggambarkan kehidupan masayarakat sehari-hari.

Karya sastra yang ada di angkatan ini antara lain “Balada Orang-orang Tercinta” karya WS. Rendra, “Dua Dunia” karya Nh. Dini, dan “Gadis Pantai” karya Pramoedya Ananta Toer.

6. Angkatan 1966

Muncul di saat peralihan rezim, karakter pada Angkatan 1966 cenderung bercorak politis, beraliran surealistik dan banyak menyuarakan kritik sosial. Selain itu, dalam periode ini mulai berkembang sastra pop dan novel pop.

7. Angkatan 2000

Angkatan ini ditandai dengan perubahan millenium. Contoh karya yanag dihasilkan pada angkatan ini adalah novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, novel “Ayat-ayat Cinta” karya Habibburahman El-Shirazy dan “Negeri 5 Menara” karya Anwar Fuadi. Ciri-ciri karya satra pada Angkatan 2000 ini diantaranya adalah:

  • adanya kebebasan memainkan kata-kata dan makna
  • mengangkat tema-tema dewasa
  • bersifat kontemporer.

Sumber:
Gurupendidikan.co.id
blog.ruangguru.com
pelajaran.co.id
dapobas.kemdikbud.go.id