Kata-Kata yang Sering Salah Ditulis dalam Bahasa Indonesia

Ragam kata dalam bahasa Indonesia memang begitu kaya. Banyak sekali kata-kata yang termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sehingga tidak jarang kita tidak mengenali beberapa kata yang baku dalam bahasa kita. Atau yang lebih parah, ada kata-kata yang sebenarnya kita kenali dan mengerti, tetapi selalu salah dieja di berbagai jenis media cetak. Kesalahan ini terus direproduksi sehingga tidak jarang masyarakat luas mengenalnya sebagai cara yang benar untuk menuliskan sesuatu, padahal tidak.

Apa saja kesalahan-kesalahan yang umum terjadi itu? Pada kesempatan kali ini, typoonline.com akan menyajikan ulaan mengenai beberapa  kata-kata yang seringkali salah dieja di beragam media tulis.

 

1. Kata-Kata yang Seharusnya Dipisah

Dari berbagai penelusuran, faktanya kita sering sekali melihat kata-kata yang seharusnya dipisah malah ditulis sebagai satu kesatuan. Beberapa yang paling sering kita temui adalah:

  1. Di mana – Di dalam hal adalah sebagai preposisi, bukan di sebagai imbuhan. Di sebagai preposisi otomatis disandingkan dengan kata benda atau tempat, sehingga penulisannya harus dipisah. Berangkat dari kaidah tersebut, kita juga harus menulis kesalahan preposisi lain lain seperti disana, disini, dirumah, disekolah, menjadi di sana, di sini, di rumah, di sekolah, dan seterusnya.

 

Termasuk dalam kesalahan penulisan preposisi lain adalah kemana, kesini, kesana, kesekolah, yang seharusnya adalah ke mana, ke sini, ke sana, ke sekolah, dan selanjutnya.

  1. Kata majemuk — Ada beberapa kata majemuk yang harus ditulis terpisah, seperti tanda tangan, anak emas, beri tahu, ibu kota, dan kerja sama. Beberapa dari kita mungkin sudah tahu hal ini, tetapi bagaimana jika kata-kata majemuk tersebut diberi imbuhan? Yang perlu diperhatikan, jika imbuhan itu hanya salah satu, baik itu berupa awalan maupun akhiran, penulisannya harus tetap dipisah (contoh:  memberi tahu, bekerja sama).

 

Akan tetapi, apabila awalan dan akhiran digunakan secara bersamaan, maka penulisannya harus dijadikan satu (contoh: memberitahukan, menandatangani, menganakemaskan).

 

2. Kata-Kata yang Seharusnya Digandeng

Berlawanan dengan paparan di atas, ada juga beberapa kata yang menurut kaidah seharusnya ditulis sambung, tetapi lebih umum dikenal sebagai kata yang ditulis terpisah.

  • Mahakuasa – Sejatinya, penulisan kata ini harus digandeng. Begitu pula dengan kata-kata sejenis lainnya seperti mahabesar, mahakuat, dan lain-lain. Pasalnya, menurut kaidah PUEBI, kata maha jika bertemu dengan kata dasar selain esa harus ditulis sambung. Tetapi sebagai catatan, penulisan ‘maha’ harus dipisah apabila kata yang mengikutinya adalah kata berimbuhan (contoh: maha pengasih, maha penyayang, dan seterusnya).
  • Ada beberapa kata majemuk yang harus ditulis terpisah, sepertidukacita, olahraga, halalbihalal, belasungkawa, adakalanya, daripada, barangkali, saputangan, matahari, dan lain-lain. Mengejutkan, bukan? Kata-kata ini sudah dianggap satu rangkaian karena arti gabungan dari kata-kata itu tidak bisa dikembalikan kepada arti kata pembentuk masing-masing secara terpisah.

 

3. Antara P, V, dan F

Sifat lidah orang Indonesia yang bisa melafalkan berbagai fonem dengan lancar juga seringkali menimbulkan kerancuan dalam penulisan. Kata aktivitas misalnya, seringkali ditulis sebagai aktifitas, atau bahkan aktipitas. Tetapi, jika aktivitas (sebuah kata benda) harus dipecah menjadi kata sifat, maka penulisannya harus diakhiri dengan huruf ‘f’, yakni aktif. Begitu juga kreativitas yang jika dipecah maka ejaannya menjadi kreatif, atau efektivitas yang harus kita tulis kreatif.

Yang tidak kalah mengejutkan, buah yang kita kenal sebagai alpukat atau alkopat, ternyata memiliki ejaan avokad. Begitu juga kata pondasi yang umum digunakan, ternyata diwakilkan dengan kata fondasi di dalam kamus KBBI.

 

4. Mengubah

Mengubah adalah sebuah kata berimbuhan, dengan kata dasar ‘ubah’. Namun seringkali, sebagian di antara kita menuliskannya dengan imbuhan mer-, yang malah membuatkata tersebut memiliki makna yang lain (me-rubah, menjadi hewan rubah). Awalan me- tidak sama dengan konfiks per-an yang dipakai ketika memberi imbuhan pada kata yang dimulai dengan huruf vokal (lihat perubahan, peradilan). Jadi, karena kata dasarnya adalah ‘ubah’, mengubah adalah kata yang paling tepat.

 

Masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang umum kita temukan. Contoh lainnya adalah Kosakata Bahasa Indonesia Yang Salah. Bagaimana cara agar kita terhindar dari salah tulis? Saran kami, rajin-rajinlah memeriksa kamus! Kita akan menemukan banyak lagi kesalahan yang bisa membuat kita ingin mengulas ulang semua tulisan kita dan membetulkannya. Nah, selamat belajar dan berkarya.