intisari buku nonfiksi

Cara Menyampaikan Intisari Buku Nonfiksi

Membaca merupakan kegiatan yang telah melekat dalam kehidupan kita. Kebanyakan dari kita tentu pernah membaca buku, baik buku fiksi maupun buku nonfiksi. Setelah membaca buku, tentunya kita mendapatkan sesuatu yang baru. Mungkin ilmu baru, mungkin pengetahuan baru, atau mungkin suatu cerita yang belum pernah dibaca sebelumnya. Sayangnya, tidak semua orang yang setelah membaca buku mampu mengambil intisari dari buku yang dibaca. Kebanyakan dari kita setelah membaca buku tidak tahu intisari buku dan kebanyakan informasi yang kita dapat bukanlah intisari dari buku. Mengetahui intisari sebuah buku memanglah tidak mudah. Dibutuhkan pemahaman yang cukup dan konsentrasi dalam proses membacanya, terutama untuk buku nonfiksi.

Menurut sebagian orang, membaca buku nonfiksi lebih sulit dibandingkan dengan membaca buku fiksi. Kesulitan itu, tampaknya tidak perlu ditakuti. Alasan yang muncul dari maslah tersebut adalah buku nonfiksi tidak mempunyai laur yang runut. Persepsi tersebut bisa dihilangkan dengan membiasakan diri membaca buku nonfiksi, dan menikmatinya sebagaimana kita membaca buku fiksi.

Buku nonfiksi biasanya terdiri atas bab-bab yang hubungan antar babnya terkadang tidak sama karena topik yang dibicarakan dalam bab tersebut berbeda dengan topik yang dibicarakan pada bab sebelumnya atau sesudahnya. Agar pikiran kita tetap pada alr isi buku tersebut, kita harus membaca buku nonfiksi mulai dari kata pengantar. Hal ini dikarenakan penulis biasanya memberikan “benang merah” untuk menghubungkan topik antar bab isi buku tersebut dalam kata pengantar.

Menulis intisari buku adalah sebuah kegiatan menulis yang bertujuan untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan kepada pembaca dengan cara menulis kembali atau merangkum sebuah buku dengan ringkas. Hal ini dilakukan untuk memudahkan para pembaca mendapatkan informasi yang terkandung di dalam sebuah buku.

Menulis intisari buku sangat bermanfaat, di antaranya adalah dapat dijadikan rujukan untuk menemukan suatu bacaan yang bagus, dapat memudahkan pembaca mendapatkan informasi, khususnya bagi para pembaca yang tidak suka membaca buku-buku yang sangat tebal, dan dapat juga dijadikan sebagai sumber referensi ketika menulis karya ilmiah.



Di bawah ini akan dijabarkan cara yang tepat untuk bisa menyampaikan intisari buku nonfiksi sebagai berikut :

  1. Perhatikan bagian permulaan buku. Lihat dan baca dengan cepat sampulluar buku, halaman judul, tahun penerbitan, halaman pengantar, dan daftar isi. Melalui daftar ini, kita dapat memperoleh gambaran topik-topik penting yang diuraikan dalam buku tersebut.
  2. Temukan informasi umum buku, isi bab atau seksi, dan penjelasan tertentu tentang suatu istilah.
  3. Catat informasi-informasi penting yang ada pada setiap bagian, bab dan subbab.
  4. Dalam menulis sebuah intisari buku, berikut ini adalah bagian-bagian yang harus dituliskan dalam sebuah intisari buku :

    Judul Buku
    Identitas Buku
    Penulis
    Penerbit
    Kota terbit
    Jenis buku
    Tahun terbit

  5. Intisari buku
    Dalam bagian ini, mengandung inti pokok pembahasan dari buku tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan meringkas hal-hal yang dianggap penting pada setiap bab yang kemudian disimpulkan pada bagian akhir.
    Contoh Intisari Buku

    Judul Buku : Pengendalian Erosi.
    Identitas Buku
    Penulis                                 : Dr. Ir. Supli Effendi Rahim
    Penerbit                              : PT Bumi Aksara
    Kota Terbit                         : Jakarta
    Jenis Buku                          : Lingkungan Hidup
    Tahun                                   : 2000

  6. Intisari Buku
    Buku ‘Pengendalian Erosi Tanah’ ini terdiri dari dua belas bagian, yakni pengendalian erosi tanah dalam rangka pelestarian hidup; penyebaran dan keragaman erosi tanah; masalah erosi tanah dalam lahan kritis; erosi tanah dan fenomenanya; limpasan permukaan; pendugaan erosi dan penggunaannya; pencegahan dan penanggulangan erosi tanah pada tingkat makro; pencegahan dan penanggulangan erosi pada tingkat mikro; tindakan konservasi tanah; permasalahan dalam penerapan tindakan dan kebijakan konservasi tanah; penelitian erosi dan konservasi tanah; dan kesimpulan.
    Pembangunan nasional sejak dasawarsa 80-an telah diarahkan untuk menganut konsep pembangunan berkelanjutan itu sendiri sesungguhnya adalah upaya untuk mencapai keberlanjutan dalam 4 hal. Keberlanjutan ekologis yang merupakan keberlanjutan yang utama dan pertama, diikuti oleh keberlanjutan ekonomis, sosial budaya dan politik hankam. Upaya mencapai sasaran pembangunan itu tentu harus melewati jalan berliku dan panjang. Kebijakan dalam bentuk hal haruslah ditempuh. Ada tiga hal yang harus dijadikan tumpuan dalam menjalankan roda pembangunan itu. Pertama sumber daya alami, kedua kualitas lingkungan, dan ketiga faktor kependudukan.
    Siapa pun pasti berhubungan dengan tanah. Tanah merupakan tempat mendirikan bangunan, tempat hidup tumbuhan dan hewan, tempat dikuburkannya manusia bila meninggal, dan tempat berusaha pada umumnya. Jadi, tanah dengan manusia sangat erat ketertarikan. Eratnyanya hubungan tanah dengan kehidupan manusia dibuktikan dengan terekomentasinya dalam kitab suci bahwa manusia diciptakan dari tanah. Karena ia diciptakan dari tanah maka tidak mengherankan mengapa manusia tak bisa hidup tanpa tanah. Maka dari itu tanah patut dijaga agar tidak sampai terkena erosi.
    Masalah Erosi di Indonesia, dalam hal ini erosi akibat campur tangan manusia , sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Barangkali bersamaan dengan pembukaan lahan untuk usaha pertanian oleh nenek moyang bangsa ini ribuan tahun yang lalu. Namun demikian, kepedulian manusia terhadap proses ini memang terbilang baru.
    Erosi didefinisikan sebagai suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau sebagian dari suatu tempat yang terangkut dari suatu tempat ke tempat lain, baik disebabkan oleh pergerakan air, angin, atau es. Pengikisan tanah di sini pada hakekatnya tidak termasuk erosi internal (ke dalam penampang tanah) tetapi hanya pengikisan suatu tanah ke tempat lain (eksternal). Di daerah tropis seperti Indonesia, erosi terutama disebabkan oleh air hujan. Ada juga erosi terjadi disebabkan oleh angin atau es, tetapi pada buku ini lebih ditekankan kepada erosi oleh air hujan.
    Salah satu penyebab erosi karena adanya faktor limpasan permukaan. Limpasan permukaan merupakan sebagian dari air hujan yang mengalir di atas permukaan tanah. Jumlah air yang menjadi limpasan ini sangat bergantung pada jumlah air hujan persatuan waktu (intensitas), keadaan penutup tanah, topografi terutama kemiringan lereng), jenis tanah, dan ada atau tidaknya hujan yang terjadi sebelumnya (kadar air tanah sebelum terjadinya hujan).
    Ada dua tujuan utama mengapa perlu dilakukan pendugaan erosi. Pertama, untuk meramalkan besar erosi yang telah, sedang atau akan terjadi pada suatu lahan dengan atau tanpa pengelolahan tertentu. Kedua, untuk memilih praktek penggunaan lahan dalam arti ;uas yang mempunyai produktivitas tinggi dan berkelanjutan. Pendugaan erosi dapat dilakukan di laboratorium atau di lapangan.
    Konservasi tanah ditujukan untuk memperoleh produksi maksimum suatu lahan secara berkelanjutan, sementara mengupayakan agar laju erosi tanah lebih kecil atau paling tidak sama dengan laju pembentukan tanah di lahan (daerah) itu. Ini berarti bahwa diperlukan langkah-langkah atau upaya-upaya yang diperlukan untuk mengatur penggunaan lahan.
    Laju erosi maksimum yang dapat dibiarkan disebut dengan laju kehilangan tanah toleransi. Berapa besarnya laju erosi yang bisa dibiarkan untuk suatu daerah sesungguhnya tidaklah mudah. Sebab penentuannya haruslah didasarkan kepada beberapa besarnya laju pembentukan tanah di kawasan itu. Laju pembentukan tanah merupakan patokan yang digunakan untuk mementukan beberapa besarnya laju erosi yang dapat dibiarkan di suatu daerah. Laju pembentukan tanah di seluruh dunia berkisar antara 0,01 hingga 7,7mm/tahun
    Untuk menghindari terjadinya erosi diperlukan strategi-strategi yang ampuh untuk mensiasati hal ini. Di dalam buku ini menjelaskan bahwa strategi-strategi penanggulangan erosi untuk masing-masing penggunaan lahan digunakan sedikitnya dua dari tiga tindakan,  meliputi tindakan agronomis, tindakan pengelolahan tanah, dan tindakan mekanis.
    Secara umum telah dapat dipahami bahwa masih banyak yang harus dipelajari tidak saja tentang proses erosi tanah itu sendiri, juga tentang metode-metode konservasinya. Namun, tantanga yang lebih besar lagi ternyata berupa kendala-kendala nonteknis. Metode-metode konservasi tanah secara praktikal telah berkembang mengikuti perkembangan zaman. Pada awal abad ke-20, penekanan masih kepada cara konservasi yang dikembangkan oleh Amerika Serikat yakni melalui manipulasi lahan untuk mengendalikan limpasan dengan penggunaan terasering.
    Informasi tentang perilaku erosi dan strategi untuk pengendaliannya yang “terbaik” sangat diperlukan. Tambahan lagi bahwa walaupun telaj tersedia teknologi yang handal dalam bidang konservasi tanah, namun karena kebanyakan dikembangkan di luar negeri, penerapannya tidak dapat langsung dilaksanakan begitu saja. Untuk itu perlu uji coba bahkan bila perlu dicarikan alternatif yang terbaik
    Upaya pelestarian Lingkungan Hidup secara fungisional salah satunya dilakukan melalui pengendalian erosi tanah setiap tipe penggunaan lahan. Ini merupakan isyarat bahwa konsepsi modern, padasatu sisi lahan dapat digunakan sesuai daya dukungnya, pada sisi lain diupayakan agar laju kerusakannya rendah.
    Keunggulan dari buku ini ialah mengupas secara tuntas cara penanggulangan erosi, baik terjadi karena faktor alam atau karena adanya faktor lain yang menyebabkan terjadinya erosi. Namun di sisi lain, buku ini juga mempunyai kekurangan yakni menggunakan bahasa yang bertele-tele dan sulit dimengerti.
    Buku ini layak dibaca bagi semua kalangan, baik dari kalangan remaja hingga kalangan dewasa. Buku ini juga sangat bermanfaat bagi para pecinta alam untuk mengurangi laju erosi tanah.

Demikian penjabaran tentang cara menyampaikan intisari buku nonfiksi, semoga bermanfaat.

Terima kasih 🙂