teks biografi

Ciri-Ciri Puisi Kontemporer

MAUT
dia diamdiam diamdiam dia dia diamdiam diamdiam dia
diamdiam dia dia diamdiam diamdiam dia
dia diamdiam diamdiam dia
dia diamdiam
diamdiam
maut
(Sebuah karya puisi komtemporer karya Ibrahim Sattah)

Istilah puisi kontemporer mungkin masih asing di telinga kita. Kata kontemporer sendiri dalam KBBI memiliki arti pada waktu yang sama; semasa; sewaktu; pada masa kini; dewasa ini. Secara umum puisi kontemporer bermakna masa kini sesuai dengan perkembangan zaman yang selalu menyesuaikan perkembangan keadaan zaman.
Puisi kontemporer dapat diartikan sebagai puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir. Puisi ini berusaha lari dari ikatan konvensional puisi itu sendiri. Puisi kontemporer seringkali menggunakan kata-kata yang kurang memperhatikan kesantunan berbahasa, memakai kata-kata makian yang cenderung kasar, ejekan dan lain sebagainya. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambang intuisi, makna kias, gaya bahasa, irama dan sebagainya dianggap tidak begitu penting lagi.

Tokoh-tokoh puisi kontemporer di Indonesia saat ini diantaranya :

  • Sutardji Calzoum Bachri dengan tiga kumpulan puisinya O, Amuk, dan O Amuk Kapak
  • Ibrahim Sattah dengan kumpulan puisinya Hai Ti
  • Hamid Jabbar dengan kumpulan puisi Wajah Kita




Ada yang menyebut puisi kontemporer sebagai puisi selindro. Sastra kontemporer muncul pada tahun 1970-an seiring dengan perkembangan sastra di Indonesia. Sastrawan kontemporer memiliki peranan yang cukup penting dalam perkembangan sastra kontemporer di Indonesia dewasa ini. Sastra yang sebelumnya terikat oleh aturan-aturan tertentu atau konvensional, sekarang berusaha lari dari ikatan konvensional atau tidak terikat aturan-aturan tertentu. Puisi kontemporer merupakan salah satu jenis puisi inkonrasional yang menyimpang dari pola kraya sastra pada umumnya. Puisi ini diterbitkan pada permulaan tahun tujuh puluhan hingga sekarang, dan bentuknya menyimpang dari puisi-puisi sebelumnya, cara memahami maknanya pun berbeda.

Sastra kontemporer berkembang dalam berbagai bentuk, diantaranya dalam bentuk prosa, drama, dan puisi. Puisi kontemporer memiliki beragam jenis yang terbagi menjadi 3, yaitu :

  • Puisi Mantra
    Puisi mantra merupakan puisi yang menggunakan bentuk mantra. Puisi ini mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji Calzoum Bachri adalah orang pertama yang memperkenalkan bentuk puisi mantra dalam puisi kontemporer.
  • Puisi Mbeling
    Mbeling dalam bahasa jawa memiliki arti nakal. Puisi mbeling merupakan puisi yang bersifat kelakar, berisi kritik sosial, dan ejekan terhadap sikap penyair yang serius dalam menghadapi puisi. Sesuai dengan namanya, puisi ini memiliki bentuk yang tidak mengikuti aturan. Puisi mbeling pertama kali muncul dalam majalah Aktuil yang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya yakni Remy Silado, lemar tersebut diberi nama “Puisi Mbeling”. Kata-kata dalam puisi ini tidak perlu dipilih-pilih lagi.
  • Puisi Konkret
    Puisi konkret merupakan puisi yang mementingkan bentuk grafis dan bentuknya mirip dengan gambar. Puisi ini disusun dengan mengutamakan bentuk grafis berupa tata wajah hingga menyerupai gambar tertentu. Puisi semacam ini tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media. Di dalam puisi konkret pada umunya trdapat lambang-lambang yang diwujudaka dengan benda atau gambar-gambar lain sebagai ungkapan ekspresi penyairnya.

Puisi kontemporer berbeda jauh dengan puisi yang biasa kita kenal, atau puisi konvensional. Berikut karakteristik atau ciri-ciri yang membedakan puisi kontemporer dengan puisi pada umumnya.

  1. Bentuk tulisan atau tipografi pada puisi kontemporer bersifat unik. Baris di setiap baitnya tidak dimulai pada garis yang sama ada beberapa bentuk puisi ini.
  2. Penulisan kata, baris, dan bait meyimpang dari penulisan puisi pada umumnya. Penulisannya berdasar keinginan penyair belaka, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah bahasa yang benar.
  3. Dalam beberapa kata ataupun baris, seringkali terjadi kemacetan bunyi bahkan hampir tidak bisa dibaca karena kadang-kadang hanya berupa beberapa tanda baca yang disejajarkan.
  4. Puisi kontemporer seringkali menggunakan idiom-idiom yang inkonvensional (tidak lazim).
  5. Meski tidak begitu memperhatikan kaidah-kaidah bahasa yang benar, puisi kontemporer tetap memperhatikan rima atau kemerduan bunyi tiap baris atau baitnya.
  6. Banyak melakukan pengulangan kata, frasa atau kelompok kata yang cenderung tidak wajar.
  7. Kadang-kadang puisi kontemporer ditulis dengan mencampuradukkan kata atau kalimat Bahasa Indonesia dengan kata atau kalimat bahasa asing, bahasa daerah, atau bahkan bahasa dialek.

Selain ciri-ciri di atas, penyusunan puisi kontemporer sebagai puisi inkonvensional ternyata juga perlu memperhatikan beberapa unsur sebagai berikut :

  • Unsur bunyi
    Meskipun puisi kontemporer terkesan bebas, dalam penulisannya tetap harus memperhatikan penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-tempat tertentu agar menciptakan puisi yang hidup dengan rimanya yang indah.
  • Unsur tipografi
    Tipografi pada puisi kontemporer lebih ditonjolkan agar dalam penyusunan baris-baris puisi yang berisi kata atau suku kata yang disusun sesuai dengan gambar (pola) tertentu.
  • Unsur Enjambemen
    Enjambemen dalam KBBI memiliki arti peristiwa sambung menyambung isi dua larik sajak yang berurutan. Dalam penyusunan puisi kontemporer pemenggalan atau perpindahan baris puisi menuju baris berikutnya tidak melulu dimulai dalam garis yang sama seperti puisi pada umumnya. Aturan ini tidak mutlak, beberapa puisi kontemporer tetap memulai setiap baris pada garis yang sama.
  • Unsur Kelakar
    Kelakar atau yang bersifat parodi. Penulisan puisi kontemporer biasanya memasukkan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap penyajian puisi yang pekat dan penuh dengan perenungan (kontemplatif) namun bersifat renyah.
    Berikut salah satu puisi kontemporer yang menggunakan unsur tipografi tidak teratur yang membentuk pola tertentu;

RINDU
Oleh : (Abdul Malik)

mengenang kasih           dan rindu hati ini

karena hari terendap oleh     rasa yang jauh meninggi

dari hati               yang luka     berdarah                   mengalir

rasa perih                                                                          dan berdiri

bungkam                                                                       benci hati

meragu                                                                  menderu

terayu                                                       mimpi

haru                                        tepi

Merindumu

Dalam contoh puisi kontemporer di atas, setiap baris dalam puisi tersebut dimulai di tempat yang berbeda (di garis yang berbeda) disesuaikan dengan pola yang diinginkan penyair, yakni pola berbentuk hati.
Demikian penjelasan tentang ciri-ciri puisi kontemporer, semoga menambah wawasan kita tentang dunia sastra.
Terima kasih!