penggunaan gurindam

Penggunaan Gurindam Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Gurindam merupakan salah satu bentuk puisi yang tentunya telah dikenal oleh masyarakat secara luas. Gurindam melekat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagaimanakah sebenarnya  penggunaan gurindam dalam kehidupan sehari-hari? Sebelum memahami penggunaannya, berikut penjelasan mengenai pengertian gurindam itu sendiri.



Gurindam merupakan bentuk puisi lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan rima yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam masuk ke Indonesia dibawa oleh orang Hindu atau pengaruh sastra Hindu. Gurindam berasal dari bahasa Tmail (India) yaitu kirindam yang berarti mula-mula amsal, perumpamaan. Baris pertama dalam sebuah gurindam berisi semacam persoalan, masalah atau perjanjian. Baris keduanya merupakan jawaban atau akibat dari permasalahan atau perjanjian pada baris pertama tersebut. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh-contoh gurindam :

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Gendang gendut tali kecapi,
Kenyang perut senang hati.

Berdasarkan contoh di atas, dapat disimpulkan ciri-ciri gurindam sebagai berikut :

  1. Gurindam biasanya merupakan kalimat majemuk yang dibagi menjadi dua baris yang bersajak a a.
  2. Tiap baris merupakan sebuah kalimat, yang biasanya terdiri dari anak kalimat dan induk kalimat.
  3. Tiap baris memiliki hubungan sebab-akibat.
  4. Jumlah suku kata di tiap baris, biasanya terdiri atas 8-10 suku kata.
  5. Memiliki irama tetap di tiap akhir barisnya.
  6. Isi atau maksud dalam gurindam terletak pada baris kedua.
  7. Isi gurindam biasanya berupa filosofi hidup, nasehat-nasehat ataupun kata-kata mutiara.

Banyak orang yang memiliki anggapan bahwa pantun dan gurindam adalah sama. Ini merupakan anggapan yang keliru. Alasan yang menyatakan bahwa gurindam berbeda dengan pantun adalah sebagai berikut :

  1. Pantun terdiri dari 4 baris kalimat, sedangkan gurindam berisi 2 baris kalimat.
  2. Pantun bersajak a b a b, sedangkan gurindam bersajak a a a a.
  3. Pada baris kalimat pertama gurindam harus berisikan persoalan, masalah atau permulaan. Dan baris kalimat kedua berisikan solusi, jawaban atau akibat dari baris pertama.
  4. Sajak gurindam saling berkaitan antara larik dan baris (kalimat majemuk), sehingga tidak bisa dipisahkan antara sebab dan akibat.

Sebagaimana yang telah kita jelaskan di atas, gurindam memiliki makna yang saling berkaitan satu sama lainnya, antara bait dan maknanya dan antara baris pertama dengan kedua. Dengan begitu,dapat kita bedakan antara gurindam dengan karya sastra lain :

  • Gurindam terdiri dari 2 baris tiap baitnya.
  • Setiap baris memiliki makna atau hubungan sebab-akibat. Tiap baris harus terdiridari 10-14 suku kata. Tidak boleh lebih dari itu.
  • Pola rima/sajak tiap baris adalah A-A, B-B, C-C, … dan seterusnya.
  • Isi dari gurindam ada di baris kedua.
  • Umunya gurindam berisi pesan moral, nasehat, kata-kata mutiara dan filosofi hidup.

Gurindam ditulis untuk menyatakan sesuatu yang benar melalui pepatah atau peribahasa dan berisi nasehat. Gurindam kaya akan falsafah hidup dan nasehat. Dalam kehidupan sehari-hari, gurindam memiliki relevansi untuk menggambarkan sesuatu yang telah, sedang, akan, boleh, tidak boleh atau seharusnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Isi gurindam banyakl memberikan tuntunan dalam hidup beragama  dan bersosial sehingga nilai-nilainya sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, gurindam sangat berkaitan dengan sesuatu yang sedang terjadi atau mungkin akan terjadi  dalam kehidupan nyata, terutama hal-hal yang sering terjadi setiap hari. Bahkan, nasehat-nasehat di dalam gurindam terbukti sangat berguna dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Sebagaimana dengan karya sastra lain semisal talibun, karmina, bidal dan pantun, gurindam juga dibuat oleh orang yang tidak dikenal (anonim). Namun ada satu pengarang gurindam yang sangat terkenal karyanya yaitu Raja Haji Ali. Beliau adalah seorang sastrawan sekaligus pahlawan nasional yang namanya diabadikan di Provinsi Kepulauan Riau.



Karya beliau yang sangat terkenal adalah Gurindam 12. Gurindam 12 terdiri dari 12 pasal. Beliau menyelesaikan karyanya ini pada tanggal 23 Rajab 1246 H atau bertepatan pada tahun 1847 Masehi, di usia belau yang masih berumur 38 tahun. Isi dari setiap pasal berisi pesan-pesan agama yang telah ditinggalkan oleh umat muslim. Syair yang sarat akan nasehat untuk meriah ridha Allah Subhanahu Wata’ala.

Berikut penggalan beberapa pasal dari Gurindam 12 karya Raja Haji Ali:

Pasal Satu
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka itulah ia orang yang ma’rifat.
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa yang mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.

 

Pasal Dua
Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa mengenal puasa,
Tidakah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah harta beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

 

Pasal Tiga
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat.
Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjalan yang membawa rugi.

 

Penggalan gurindam di atas berisi tentang nilai-nilai yang mengatur kehidupan sehari-hari manusia. Dari menjaga perbuatan, ucapan, hingga pikiran karena setiap hal yang kita lakukan memiliki timbal balik terhadap diri kita sendiri. Oleh karenanya, hiduplah sesuai naehat yang disampaikan dalam penggalan gurindam di atas agar hidup menjadi lebih tenang dan berkah.

 

Demikian artikel tentang penggunaan gurindam dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat dan terima kasih.



One thought on “Penggunaan Gurindam Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Comments are closed.