Perbedaan Antara Bahasa yang Baik dan Bahasa yang Benar

Sebagai bangsa Indonesia yang baik, tentu kita mencintai bahasa Indonesia. Untuk itu, bahasa Indonesia perlu dikenal, dipahami, dan dikuasai sehingga dapat terus menjadi jati diri bangsa Indonesia. Di tengah terpaan globalisasi dan media sosial, bahasa asing sering kali masuk dan perlahan dapat menggeser bahasa Indonesia. Maka dari itu, sebagai langkah awal, kita pelajari terlebih dahulu mengenai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apa perbedaan dari penggunaan bahasa yang baik dan bahasa yang benar?

Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sedangkan bahasa yang baik belum tentu sesuai dengan PUEBI. Penggunaan bahasa yang baik disesuaikan dengan situasi dan keadaan pada saat kita menggunakan bahasa tersebut. Jadi, bahasa yang benar bukanlah bahasa yang baik, sedangkan bahasa yang baik belum tentu benar.

Misalkan, ketika kita bercakap dengan teman, jika kita mengatakan bahasa yang sesuai PUEBI seperti “Apakah kamu memahami tugas yang diberikan oleh guru? Bisakah kamu mengajari saya?” maka teman kita akan merasa aneh dengan kita karena bahasa yang kita gunakan kaku dan formal. Pada situasi ini bahasa yang sesuai dengan PUEBI tidak baik digunakan. Bahasa yang baik untuk digunakan adalah bahasa yang akrab dan santai, seperti “Ada nggak yang paham PR tadi? Bisa nggak kamu ajarin ke aku?”

Saat kita berkomunikasi dengan seseorang menggunakan bahasa tentunya juga harus disesuaikan dengan  kepada siapa kita berbicara. Berbeda pada saat kita berbicara kepada orang tua, teman, rekan kerja, guru kita, pemimpin daerah, dan presiden.  Dalam hal ini, ketika kita berbicara pada guru kita tentu kalimat “Bisa nggak kamu ajarin ke aku?” menjadi bahasa yang tidak baik dan tidak benar. Menjadi baik dan benar jika kita menggunakan kalimat “Bisakah Bapak mengajari saya?”.

Contoh lain, kita dapat melihat kalimat benar pada kalimat “Apakah kamu tidak makan?”. Namun bahasa benar ini belum tentu bahasa yang baik ketika kalimat tersebut diucapkan oleh seorang anak kepada orang tua karena tidak sopan.

Jadi kesimpulannya adalah bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai situasinya dan kepada siapa kita berbahasa sedangkan bahasa yang benar belum tentu baik untuk digunakan meskipun sesuai kaidah bahasa indonesia yang benar.

Ciri-ciri ragam bahasa yang benar adalah sebagai berikut:

  1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: kami sedang menonton pertunjukan itu bukan pertunjukan itu sedang kami tonton.
  2. Adanya penggunaan kata-kata baku dan ejaan resmi sesuai EBI (Ejaan Bahasa Indonesia). Misalnya mengapa bukan kenapa.
  3. Penggunaan lafal baku dalam bahasa lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
  4. Penggunaan kalimat secara efektif. Misalnya silahkan maju bukan silahkan maju ke depan (maju sudah pasti ke depan), hadirin bukan para hadirin (hadirin sudah mengacu pada jumlah majemuk).

Selain itu, menggunakan bahasa yang baik dan benar perlu memerhatikan lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut:

  1. Ragam beku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
  2. Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
  3. Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
  4. Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
  5. Ragam akrab (intimate); digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.

Mari kita membiasakan diri berbahasa yang baik dan benar, ya!