Penggunaan Negasi dalam Bahasa Indonesia

Aku tidak suka jeruk. Rasanya masam.

Bukan warna merah yang aku mau, tapi biru.

Ayahku belum pensiun.

Jangan menerima minuman dari orang asing di tempat umum. Berbahaya!

 

Kata tidak, bukan, belum, dan jangan adalah kata-kata yang sangat sering kita ucapkan sebagai penutur asli bahasa Indonesia. Namun, tahukah kamu bahwa ada perbedaan antara keempat nya, yang mungkin tidak kita pahami, tetapi sering membingungkan para pembelajar bahasa Indonesia yang berasal dari negara lain?

Apa sajakah itu? Mari kita simak artikel berikut ini.

 

## Negasi

Negasi menurut KBBI adalah penyangkalan atau peniadaan. Dalam istilah linguistik, negasi adalah sebutan untuk kata sangkalan. Ada empat kata sangkalan dalam bahasa Indonesia, yaitu tidak, bukan, belum, dan jangan. Empat kata sangkalan ini digunakan dalam situasi yang berbeda. Sebelum memasuki pembahasan tentang penggunaan keempat negasi ini, terlebih dahulu kita harus berkenalan dengan beberapa kelas kata dalam bahasa Indonesia.

 

### Kata benda (Nomina)

Ini adalah sebuah buku.

Kata buku termasuk dalam kelas kata benda. Ketika kata buku tersebut dilekati dengan kata lain seperti, saya atau adik perempuan saya atau teman adik perempuan saya, kata buku tersebut juga masih termasuk kelas kata nomina.

Buku.

Buku saya.

Buku adik perempuan saya.

Buku teman adik perempuan saya.

 

### Kata Kerja (Verba)

Kelas kata verba terdiri dari kata-kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan. Misalnya adalah tulis, baca, tidur, makan, dan lain sebagainya. Kata-kata ini dapat masih tetap termasuk dalam kelas kata verba ketika mendapatkan imbuhan tertentu seperti me- , ter- , ataupun ber-. Akan tetapi jika digabungkan dengan imbuhan per-an, ke-an, dan imbuhan-imbuhan lainnya, kelas katanya dapat berubah menjadi kata benda. Pembahasan tentang imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dibaca pada artikel lain.

 

### Kata Sifat (Adjektiva)

Yaitu kata yang menerangkan kelas kata nomina, misalnya cantik, baik, buruk, tinggi, dan lain sebagainya. Kata-kata dalam kelas kata ini dapat digabungkan dengan kata lebih atau sangat.

 

### Kata Keterangan (Adverbia)

Kata ini berfungsi untuk menerangkan verba, adjektiva, nomina, atau kalimat. Adverbia bisa berupa keterangan waktu, tempat, cara, dan lain sebagainya. Misalnya kemarin, di rumah, dan seterusnya.

Perbedaan antara kata sangkalan tidak, bukan, belum, dan jangan terletak pada jenis kelas kata yang dilekatinya. Entah itu kata benda, kata kerja, kata sifat, atau kata keterangan. Untuk lebih jelasnya mari kita simak penjelasan di bawah ini.

 

## Tidak

Kata tidak digunakan untuk menyangkal kata kerja atau kata sifat. Misalnya contoh berikut ini.

Saya tidak makan nasi.

Kopi itu sudah tidak panas lagi.

Kata makan pada kalimat pertama termasuk kelas kata verba, sedangkan kata panas pada kalimat kedua termasuk kelas kata adjektiva. Oleh karena itu, kata sangkalan yang tepat untuk kedua kalimat tersebut adalah tidak. Kalimat itu akan terdengar aneh jika negasinya digantikan dengan kata bukan.

Saya bukan makan nasi.

Kopi itu sudah bukan panas lagi.

 

## Bukan

Kata bukan digunakan sebagai sangkalan untuk kata benda dan kata keterangan. Berikut contohnya.

Ayahku bukan seorang guru.

Rapatnya bukan hari ini.

Kata guru termasuk kelas kata nomina, sedangkan kata hari ini merupakan kata keterangan waktu, sehingga negasi yang tepat untuk kedua kalimat di atas adalah bukan. Jika setelah kalimat tersebut ditambah klausa baru untuk menyatakan keadaan yang sebenarnya, maka kata hubung yang digunakan di awal klausa selanjutnya adalah melainkan.

Ayahku bukan seorang guru, melainkan seorang petani.

Rapatnya bukan hari ini, melainkan besok.

Kata hubung melainkan ini sedikit berbeda dengan kata hubung tetapi. Kata hubung tetapi bisa digunakan untuk menyatakan dua hal yang kontradiktif, tetapi keduanya merupakan suatu kebenaran. Sedangkan kata melainkan digunakan untuk menyatakan kontradiksi yang merupakan pembetulan dari pernyataan pertama.

Dia cantik, tetapi sombong.

Dari kalimat di atas didapat dua informasi yang merupakan suatu kebenaran. Yaitu dia cantik dan dia sombong. Ketika ditambahkan negasi tidak pun, kata hubung yang digunakan adalah tetapi.

Dia tidak cantik, tetapi sombong.

Dia cantik, tetapi tidak sombong.

 

## Belum

Kata belum merupakan kata negasi yang menunjukkan suatu keadaan yang masih dalam keadaan tidak. Misalnya contoh kalimat berikut ini.

Ibu belum memasak untuk sarapan.

Aku masih belum mandi.

Berbeda dengan tidak, ada nuansa bahwa subjek akan melakukan kegiatan yang dijelaskan pada kalimat tersebut. Pada kalimat pertama, kita mendapatkan informasi bahwa saat ini ibu belum memasak untuk sarapan, tetapi nanti ibu mungkin akan memasak. Karena menunjukkan suatu keadaan yang masih dalam keadaan tidak, kata belum tidak bisa dilekatkan kepada kata benda.

Aku belum dokter.

Kalimat di atas tidak berterima, kecuali jika ditambahkan kata menjadi, sehingga kalimat yang benar adalah aku belum menjadi dokter.

 

## Jangan

Dalam KBBI, kata jangan merupakan adverbia yang digunakan untuk menyatakan larangan. Biasanya kata ini dilekatkan pada kelas kata verba atau adjektiva.

Jangan pergi sendirian.

Jangan malas.

Akan tetapi, dalam bahasa lisan, terkadang kata ini juga dilekatkan pada kelas kata nomina atau adverbia. Misalnya contoh berikut ini.

Jangan merah. Terlalu terang. (Ketika memilih warna)

Jangan lusa. Bagaimana kalau akhir pekan saja? (Ketika membuat janji)

Untuk kedua contoh kalimat di atas, kata jangan tidak berfungsi untuk menyatakan larangan melakukan sesuatu, tetapi digunakan untuk menyatakan ketidaksetujuan atas suatu pilihan yang diberikan oleh orang lain.

 

Nah, itulah sekilas informasi yang perlu kamu ketahui mengenai penggunaan negasi dalam bahasa Indonesia. Merasa artikel ini bermanfaat? Jangan lupa share di media sosial kamu ya.

One thought on “Penggunaan Negasi dalam Bahasa Indonesia

  1. Pingback: dr berg keto

Comments are closed.